RSS

Arsip Bulanan: Maret 2012

Makna Ikhlas

Ikhlas, satu kata tetapi mempunyai makna dan cerita yang begitu banyaknya. Masing-masing orang memiliki definisi tersendiri mengenai kata ini. Memang, yang penting bukan katanya tetapi bagaimana kita memahaminya lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari. Tanpa itu, kata tetaplah hanya sebuah kata yang tidak memiliki pengaruh apa-apa.

Saya akan lebih memfokuskan makna ikhlas kali ini kepada ikhlas dalam hal kehilangan. Pernahkah para pembaca sekalian mengalami yang namanya kehilangan? Pasti pernah dong. Mungkin kehilangan barang kesayangan, kehilangan uang, atau bahkan kehilangan sanak keluarga yang sangat disayangi. Bagaimana rasanya? Tentunya sakit di hati. Rasa penyesalan dan kesedihan yang kemudian muncul mengiringi proses kehilangan tersebut. Hanya saja seberapa dalam kita bersedih dan seberapa lama kita menyesal bias menjadi salah satu tolok ukur tingkat keikhlasan kita atas kehilangan tersebut.

Tapi bukan berarti orang yang kehilangan tetapi tidak bersedih maka berarti dia sangat ikhlas. Belum tentu juga. Justru dipertanyakan apakah emosi orang tersebut masih normal atau tidak. Adalah sebuah kewajaran jika kita bersedih atas kehilangan yang menimpa diri kita. Ada rasa tidak rela yang sesaat muncul setelah kehilangan itu terjadi.

Lalu, bagaimana sebenarnya kita menerapkan sikap ikhlas dalam hal ini? Kalo saya ibaratkan bahwa ikhlas dalam hal kehilangan itu seperti tukang parker. Lho, apa hubungannya? Harus kita pahami bahwa segala apa yang ada dalam diri kita ini sebenarnya bukan milik kita. Ia adalah barang milik Allah SWT yang dititipkan kepada kita di dunia. Artinya, sesuai hokum pinjam meminjam maka jika barang titipn tersebut diambil oleh si empunya maka kita harus rela memberikannya.
Seperti tukang parker, ia dititipi mobil atau motor atau sepeda. Ia dengan sabar menjaga barang tersebut. Bahkan jika perlu ia merapikan kedudukannya supaya ringkas. Suatu saat jika pemiliknya kembali lalu meminta kembali motor atau mobil atau sepedanya, si tukang parker tidak nggrundel sama sekali. Ia rela menyerahkannya kembali kepada pemiliknya.
Tukang parkir hanya diberi imbalan Rp 500 atau paling banyak Rp 5000, dan ia tidak menyesal barang titipannya diambil. Sementara Allah member imbalan surge atas titipan barang yang diberikan kepada kita. Maka tidak ada alas an untuk tidak rela apalagi menyesal yang berlebihan jika barang tersebut diambil oleh-Nya.

Jika kita bias memahami makna kehilangan maka kita bias memberikan sikap yang tepat. Tak ada yang abadi di dunia ini, semua pasti ada tanggal kadaluwarsanya. Sampai saat itu tiba, kita harus benar-benar menjaga barang-barang yang dititipkan kepada kita. Berharap Sang Pemilik Yang Maha Memiliki memberikan imbalan berupa surga yang kekal.

Sumber: http://adnananwar.net/nasehat/makna-ikhlas/

kesimpulan:

“jadilah akar yang selalu gigih menembus tanah demi sebatang pohon ketika pohon tersebut tumbuh, berbuah lebat, dan menampilkan eloknya pada dunia, akar tersebut tidak iri, ia tetap bersembunyi di dalam tanah itulah sebenarnya makna dari sebuah ketulusan dan keikhlasan”

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 Maret 2012 in Akhlak

 
 
%d blogger menyukai ini: