RSS

Arsip Kategori: Akhlak

Makna Ikhlas

Ikhlas, satu kata tetapi mempunyai makna dan cerita yang begitu banyaknya. Masing-masing orang memiliki definisi tersendiri mengenai kata ini. Memang, yang penting bukan katanya tetapi bagaimana kita memahaminya lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari. Tanpa itu, kata tetaplah hanya sebuah kata yang tidak memiliki pengaruh apa-apa.

Saya akan lebih memfokuskan makna ikhlas kali ini kepada ikhlas dalam hal kehilangan. Pernahkah para pembaca sekalian mengalami yang namanya kehilangan? Pasti pernah dong. Mungkin kehilangan barang kesayangan, kehilangan uang, atau bahkan kehilangan sanak keluarga yang sangat disayangi. Bagaimana rasanya? Tentunya sakit di hati. Rasa penyesalan dan kesedihan yang kemudian muncul mengiringi proses kehilangan tersebut. Hanya saja seberapa dalam kita bersedih dan seberapa lama kita menyesal bias menjadi salah satu tolok ukur tingkat keikhlasan kita atas kehilangan tersebut.

Tapi bukan berarti orang yang kehilangan tetapi tidak bersedih maka berarti dia sangat ikhlas. Belum tentu juga. Justru dipertanyakan apakah emosi orang tersebut masih normal atau tidak. Adalah sebuah kewajaran jika kita bersedih atas kehilangan yang menimpa diri kita. Ada rasa tidak rela yang sesaat muncul setelah kehilangan itu terjadi.

Lalu, bagaimana sebenarnya kita menerapkan sikap ikhlas dalam hal ini? Kalo saya ibaratkan bahwa ikhlas dalam hal kehilangan itu seperti tukang parker. Lho, apa hubungannya? Harus kita pahami bahwa segala apa yang ada dalam diri kita ini sebenarnya bukan milik kita. Ia adalah barang milik Allah SWT yang dititipkan kepada kita di dunia. Artinya, sesuai hokum pinjam meminjam maka jika barang titipn tersebut diambil oleh si empunya maka kita harus rela memberikannya.
Seperti tukang parker, ia dititipi mobil atau motor atau sepeda. Ia dengan sabar menjaga barang tersebut. Bahkan jika perlu ia merapikan kedudukannya supaya ringkas. Suatu saat jika pemiliknya kembali lalu meminta kembali motor atau mobil atau sepedanya, si tukang parker tidak nggrundel sama sekali. Ia rela menyerahkannya kembali kepada pemiliknya.
Tukang parkir hanya diberi imbalan Rp 500 atau paling banyak Rp 5000, dan ia tidak menyesal barang titipannya diambil. Sementara Allah member imbalan surge atas titipan barang yang diberikan kepada kita. Maka tidak ada alas an untuk tidak rela apalagi menyesal yang berlebihan jika barang tersebut diambil oleh-Nya.

Jika kita bias memahami makna kehilangan maka kita bias memberikan sikap yang tepat. Tak ada yang abadi di dunia ini, semua pasti ada tanggal kadaluwarsanya. Sampai saat itu tiba, kita harus benar-benar menjaga barang-barang yang dititipkan kepada kita. Berharap Sang Pemilik Yang Maha Memiliki memberikan imbalan berupa surga yang kekal.

Sumber: http://adnananwar.net/nasehat/makna-ikhlas/

kesimpulan:

“jadilah akar yang selalu gigih menembus tanah demi sebatang pohon ketika pohon tersebut tumbuh, berbuah lebat, dan menampilkan eloknya pada dunia, akar tersebut tidak iri, ia tetap bersembunyi di dalam tanah itulah sebenarnya makna dari sebuah ketulusan dan keikhlasan”

 

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 Maret 2012 in Akhlak

 

Etika Berbeda Pendapat

Di saat berbeda pendapat baik dalam suatu majelis atau bukan, sebagai seorang muslim kita berupaya untuk ikhlas dan mencari yang haq serta melepaskan diri dari nafsu  dan juga menghindari sikap show (ingin tampil) dan membela diri dan nafsu.

Seorang muslim haruslah mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada Kitab Al-Qur’an dan Sunnah. Karena Alloh Subhaanahu wa Ta’ala telah berfirman, yang artinya: “Dan jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Kitab) dan Rasul”. (QS: An-Nisa: 59).

Seorang muslim berupaya berbaik sangka kepada orang yang berbeda pendapat dengan kita dan tidak menuduh buruk niatnya, mencela dan menganggapnya cacat. Sebisa mungkin berusaha untuk tidak memperuncing perselisihan, yaitu dengan cara menafsirkan pendapat yang keluar dari lawan atau yang dinisbatkan kepadanya dengan tafsiran yang baik.

Seorang muslim berusaha sebisa mungkin untuk tidak mudah menyalahkan orang lain, kecuali sesudah penelitian yang dalam dan difikirkan secara matang. Berlapang dada di dalam menerima kritikan yang ditujukan kepada anda atau catatan-catatang yang dialamatkan kepada anda.

Sedapat mungkin menghindari permasalahan-permasalahan khilafiyah dan fitnah. Berpegang teguh dengan etika berdialog dan menghindari perdebatan, bantah-membantah dan kasar menghadapi lawan.

 

Sumber:

http://akhlaqmuslim.wordpress.com/2007/07/19/etika-berbeda-pendapat/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 Juni 2011 in Akhlak

 

Menebar Keangkuhan Menuai Kehinaan

Masih berkaca pada untaian nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya. Menjelang akhir nasihatnya, Luqman melarang sang anak dari sikap takabur dan memerintahkannya untuk merendahkan diri (tawadhu’). Luqman berkata kepada anaknya:

 وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتاَلٍ فَخُوْرٍ

“Dan janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong), dan janganlah berjalan dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang angkuh dan menyombongkan diri.” (Luqman: 18)

Demikian Luqman melarang untuk memalingkan wajah dan bermuka masam kepada orang lain karena sombong dan merasa dirinya besar, melarang dari berjalan dengan angkuh, sombong terhadap nikmat yang ada pada dirinya dan melupakan Dzat yang memberikan nikmat, serta kagum terhadap diri sendiri. Karena Allah tidak menyukai setiap orang yang menyombongkan diri dengan keadaannya dan bersikap angkuh dengan ucapannya. (Taisirul Karimir Rahman hal. 649)

Pada ayat yang lain Allah k melarang pula:

وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحاً إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ اْلأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِباَلَ طُوْلاً

“Dan janganlah berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mencapai setinggi gunung.” (Al-Isra`: 37)

Demikianlah, seseorang dengan ketakaburannya tidak akan dapat mencapai semua itu. Bahkan ia akan menjadi seorang yang terhina di hadapan Allah k dan direndahkan di hadapan manusia, dibenci, dan dimurkai. Dia telah menjalani akhlak yang paling buruk dan paling rendah tanpa menggapai apa yang diinginkannya. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 458)

Kehinaan. Inilah yang akan dituai oleh orang yang sombong. Dia tidak akan mendapatkan apa yang dia harapkan di dunia maupun di akhirat.

‘Amr bin Syu’aib meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi n:

يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُوْنَ يَوْمَ الْقِياَمَةِ أَمْثاَلَ الذَّرِّ فِيْ صُوْرَةِ الرِّجاَلِ، يَغْشاَهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكاَنٍ، يُسَاقُوْنَ إِلَى سِجْنٍ مِنْ جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُوْلَسَ، تَغْلُوْهُمْ ناَرٌ مِنَ اْلأَنْياَرِ، وَيُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِيْنَةِ الْخَباَلِ

“Orang-orang yang sombong dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam bentuk manusia, diliputi oleh kehinaan dari segala arah, digiring ke penjara di Jahannam yang disebut Bulas, dilalap oleh api dan diberi minuman dari perasan penduduk neraka, thinatul khabal.1” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 434)

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Juni 2011 in Akhlak

 

Adab terhadap diri sendiri

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams [9]: 9-10).

Seorang muslim yakin bahwa kebahagiaan di dunia dan akhirat tergantung pada sejauh mana ia dapat mendidik jiwanya, menjadikannya baik, mensucikannya, dan membersihkannya. Begitu juga kecelakaanya itu tergantung kerusakan jiwanya, kekotoran dan keburukannya. Sesuai dengan firman Allah:

” Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka  dan diatas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah kami memberikan balasan kepada orang-orang yang zhalim. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnnya. ” (Al-A’raf[7]: 40-42).

 

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Juni 2011 in Akhlak

 

Taubat

Maksudnya adalah meninggalkan semua dosa dan maksiat, menyesali semua dosa yang telah dilakukannya, serta berniat untuk tidak mengulanginya pada waktu yang akan datang. Karena Allah SWT telah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabb Kalian akan menutupi kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam jannah yang mengalir dibawahnya sungai-sungai…”(At-Tahrim(66):8)

Rasulullah bersabda: ” Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah, sungguh aku pun bertaubat kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali.” (HR Muslim BabTaubat:31). Sabda Rasulullah juga : “Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam untuk menerima taubat orang-orang yang berbuat kesalah di siang hari, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang-orang yang berbuat kesalahan di malam hari hingga matahari terbenam di sebalah barat.”  (HR, Muslim BabTaubat:31)

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Juni 2011 in Akhlak

 
 
%d blogger menyukai ini: