RSS

Arsip Kategori: Artikel

Berinteraksi dengan Al Qur’an

mohon maaf lama g ngeblog krn lg sibuk bikin skripsi, artikel ini saya dapat dari sebuah majelis

Al-Qur’an ini datang untuk membenarkan kitab-kitab suci yang telah turun sebelumnya. Yaitu yang berkaitan dengan pokok-pokok aqidah dan akhlak, sebelum kitab-kitab itu dipalsukan dan diubah tangan manusia. Al-Qur’an juga mengungguli kitab-kitab suci sebelumnya, yaitu dengan mengoreksi dan meluruskan tambahan-tambahan dan perubahan-perubahan yang telah disisipkan oleh manusia dalam kitab-kitab itu. Tentang hal ini Allah berfirman:

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan  apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab ( yang diturunkan sebelumnya ) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.”(Al Maaidah:48).

Al-Qur’an, sebagaimana ia diturunkan oleh Allah SWT, mempunyai keunggulan-keunggulan yang membuatnya istimewa dibanding kitab suci lainnya. Ia adalah kitab Ilahi, kitab suci yang menjadi mukjizat, kitab yang memberikan penjelasan dan dimudahkan untuk dipahami, kitab suci yang dijamin pemeliharaan keautentikannya, kitab suci bagi agama seluruhnya, kitab bagi seluruh zaman, dan kitab suci bagi seluruh manusia.

Al-Qur’an juga mempunyai maksud dan tujuan yang dibidiknya, diantaranya: meluruskan kepercayaan-kepercayaan dan pola pandang manusia tentang Tuhan, kenabian, dan balasan atas amal perbuatan, serta meluruskan pola pandangan tentang manusia, kemuliaannya dan menjaga hak-haknya, terutama bagi kalangan yang lemah dan tidak berpunya.

Al-Qur’an juga bertujuan untuk menghubungkan manusia dengan Rabbnya, agar manusia hanya menyembah-Nya semata dan bertaqwa kepada_Nya dalam seluruh urusannya.

Al-Qur’an juga bertujuan untuk membersihkan jiwa manusia, yang jika jiwa itu telah bersih niscaya bersih dan baiklah seluruh masyarakat. Dan jika jiwa itu rusak, niscaya rusaklah masyarakat seluruhnya.

Al-Qur’an juga membangun umat yang saleh yang dianugerahkan amanah untuk menjadi saksi bagi manusia dan memberikan petunjuk bagi mereka.

Setelah itu, mengajak untuk menciptakan dunia manusia yang saling kenal mengenal dan tidak saling mengisolasi diri, saling memberi maaf dan tidak saling membenci secara fanatik, serta untuk bekerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan, bukan kejahatan dan permusuhan.

Kita berkewajiban untuk memperlakukan Al-Qur;an ini secara baik dengan menghapal dan mengingatnya, membaca dan mendengarkannya, serta mentadabburi dan merenungkannya.

Kita juga berkewajiban untuk berlaku baik terhadapnya dengan memahami dan menafsirkannya. Tidak ada yang lebih baik dari usaha kita untuk mengetahui kehendak Allah SWT terhadap kita. Dan Allah SWT menurukan kitab-Nya agar kita mentadabburinya, memahami rahasia-rahasianya, serta mengeksplorasi mutiara-mutiara terpendamnya. Dan setiap orang berusaha sesuai dengan kadar kemampuannya.

Namun yang sayangkan, dalam bidang ini telah terjadi kerancuan yang berbahaya, yaitu memahami dan menafsirkan Al-Qur’an. Oleh karena itu harus dibuat rambu-rambu dan petunjuk yang mampu menjaga dari kekeliruan usaha ini, serta perlu diberikan peringatan tentang ranjau-ranjau yang menghadang di jalan, yang dapat berakibat fatal jika dilanggar.

Tidak selayaknya umat Al-Qur’an mengalami hal yang sama yang pernah terjadi dengan umat Taurat, yang diungkapkan oleh Al-Qur’an dalam firman-Nya:

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal” (Al-Jumu’ah:5)

Kita juga harus berlaku baik terhadap Al-Qur’an dengan mengikuti petunjuknya, mengerjakan ajarannya, menghukum dengan syari’atnya serta mengajak manusia mengikuti petunjuknya. Ia adalah manhaj bagi kehidupan individu, undang-undang bagi aturan politik, serta petunjuk dalam berdakwah kepada Allah SWT.

Inilah yang berusaha dilakukan buku ini dalam empat bab utamanya, dengan bertumpu terutama pada Al-Qur’an itu sendiri, karena ia adalah objek kita, namun ia juga petunjuk itu.

Umat kita pada abad-abad pertama, yang merupakan abad-abad yang paling utama, telah berinteraksi dengan baik terhadap Al-Qur’an. Mereka berlaku baik dalam memahaminya, mengetahui tujuan-tujuannya, berlaku baik dalam memahaminya, mengetahui tujuan-tujuannya, berlaku baik menerapkannya dengan benar-benar dalam kehidupan mereka, dalam bidang-bidang kehidupan beragam, serta berlaku baik pula dalam mendakwahkannya. Contoh terbaik hal itu adalah para sahabat. Kehidupan mereka telah diubah oleh Al-Qur’an dengan amat drastis dan revolusioner. Al-Qur’an telah merubah mereka dari perilaku-perilaku jahiliyah menuju kesucian islam, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan dalam cahaya. Kemudian mereka diikuti oleh murid-murid mereka dengan baik, untuk selanjutnya murid-murid generasi berikutnya mengikuti murid-murid para sahabat itu dengan baik pula. Melalui mereka itulah Allah SWT memberikan petunjuk kepada manusia, membebaskan negeri-negeri, memberikan kedudukan bagi mereka diatas bumi, sehingga mereka kemudian mendirikan negara yang adil dan baik, serta peradaban ilmu dan iman.

Kemudian datang generasi-generasii berikutnya, yang menjadikan Al-Qur’an terlupakan, mereka menghafal huruf-hurufnya, namun tidak memperhatikan ajaran-ajarannya. Mereka tidak mampu berinteraksi secara benar dengannya, tidak memprioritaskan apa yang menjadi prioritas Al-Qur’an, tidak menganggap besar apa yang dinilai besar oleh Al-Qur’an serta tidak menganggap kecil apa yang dinilai kecil oleh Al-Qur’an. Diantara mereka ada yang beriman dengan sebagiannya, namun kafir dengan sebagiannya lagi, seperti yang dilakukan oleh Bani Israel sebelum mereka terhadap kitab suci mereka. Mereka tidak mampu berinteraksi secara baik dengan Al-Qur’an, seperti yang dikehendaki oleh Allah SWT. Meskipun mereka mengambil berkah dengan membawanya serta menghias dinding-dinding rumah mereka dengan ayat-ayat Al-Qur’an, namun mereka lupa bahwa keberkahan itu terdapat dalam mengikut dan menjalankan hukum-hukumnya. Seperti difirmankan oleh Allah SWT:

“Dan Al-Qur’an itu adalah kitab yang kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.”(Al-An’am:155)

Tidak ada jalan untuk membangkitkan umat dari kelemahan, ketertinggalan dan keterpecahbelahan mereka selain dari kembali kepada Al-Qur’an ini. Dengan menjadikannya sebagai panutan dan imam yang diikuti. Dan cukuplah Al-Qur’an sebagai petuntuk:

“Dan siapakah yang lebih besar perkataannya dari pada Allah?.”(An-Nisa:122)

Allahu alam bi shawab.

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 15 September 2012 in Artikel

 

Keutamaan Puasa Arafah

Mohon maaf pada artikel saya kali ini hanya repost dari situs lain:

Puasa Arafah adalah puasa yang  jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa Arafah dinamakan demikian karena saat itu jamaah haji sedang wukuf di terik matahari di padang Arafah. Puasa Arafah ini dianjurkan bagi mereka yang tidak berhaji. Sedangkan yang berhaji tidak disyariatkan puasa ini.

Mengenai hari Arofah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ

Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arofah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim) Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 November 2011 in Artikel

 

Dibalik Rahasia Keutamaan Shalat Subuh

“Ash Shalatu Khairun Minan Naum Ash Shalatu Khairun Minan Naum”

Bisa dipastikan setiap menjelang fajar kita mendengar salah satu penggalan lafal kumandang adzan subuh yang syahdu dan merdu ini. Sayangnya, kebanyakan dari kita tidak segera beranjak bangun untuk menjawab panggilan atau seruan itu. Akan tetapi malah terus melanjutkkan nyenyaknya tidur dengan dibuai mimpi, sambil mengeratkan selimut kita. Sungguh beribu sayang, kita termasuk golongan orang yang merugi. Seandainya kita tahu bahwa, shalat fardhu yang paling utama adalah shalat subuh. Selain itu berbagai khasiat yang tidak terduga dan ternilai jika kita sungguh-sungguh dalam mengamalkannya. Niscaya kita akan berlomba dalam mengerjakannya.
“Seandainya manusia mengetahui pahala dalam adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya selain dengan diundi, tentu mereka saling mengundi. Seandainya mereka mengetahui pahala pada At-Tahjir (menuju shalat lebih awal), tentu mereka akan berlomba-lomba mendapatkannya. Dan seandainya mereka tahu pahala dalam shalat isya dan subuh, tentu mereka akan mendatangi keduanya walaupun harus merangkak.” (H.R. Bukhari)
Dalam bahasa Arab arti subuh adalah awalnya siang, dan biasanya orang-orang Arab mengartikan waktu pertengahan malam yang terakhir hingga tengah hari (siang). Lazimnya disebut fajar, ketika gelapnya malam ditelan oleh sang surya. Subuh sendiri adalah salah satu tanda kebesaran Allah SWT. Allah SWT bersumpah atas nama fajar (subuh), tertera pada ayat pertama surah al-Fajr yang berbunyi, “Demi Fajar” (QS.Al-Fajr[89]:1). Ini menegaskan pada hati manusia yang ragu akan kekuasaan Rabb. Dan mendorong hati orang-orang mukmin untuk berdzikir dan bertasbih mengagungkan-Nya pada saat itu (shalat subuh).
Tetapi ada juga sesuatu yang harus dipahami oleh umat muslim, yakni larangan-larangan dalam shalat subuh. Rasulullah SAW dengan tegas melarang umatnya sembahyang sunat setelah shalat subuh. Alasan dari larangan ini adalah wujud antisipasi supaya umat islam, tidak melaksanakan sembahyang tepat pada saat orang kafir menyembah matahari. Dimana waktu itu matahari muncul diantara dua tanduk setan. Hal ini dengan gamblang dikemukakan oleh hadis Rasulullah SAW, sabda beliau, “Dan waktu shalat subuh adalah dari terbit fajar sebelum matahari terbit, kalau matahari sedang terbit maka berhentilah shalat karena matahari pada saat itu muncul diantara dua tanduk setan (H.R Muslim)
Akan tetapi Rasulullah SAW mengetahui diantara umatnya, terlambat dalam mengerjakan shalat subuh walaupun seditkit. Hal ini bisa disebabkan karena seharian penuh disibukkan menyelesaikan pekerjaanya. Jika tidak malahan hampir semalam suntuk begadang karena kebetulan memperoleh rezeki ditengah malam. Alhasil waktu tidurnya terbatas ataupun seolah semalaman tidak cukup untuk membayar kelelahannya. Hingga subug hampir habis, dia tidak mendapati shalat berjama’ah. Maka selama dia masih menjumpai satu raka’at shalat subuh dan pada saat itu matahari belum terbit, dia dianggap telah menunaikan shalat subuhnya.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, dari Abu Huraihah r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menjumpai (menunaikan shalat) satu raka’at shalat subuh selama matahari belum terbit maka dia telah menunaikan shalat subuh, dan siapa yang menjumpai satu raka’at shalat ashar selama matahari belum tenggelam, maka ia telah menunaikan shalat ashar.” (H.R Muslim)
Tapi bagaimanapun juga, alangkah indah dan beruntungnya kita jika bisa secara istiqomah menjalankan shalat subuh secara berjama’ah. Kita akan mendapat pahala yang berlipat ganda dibandingkan kita shalat sendiri. Ini tertuang dalam sebuah hadis, “Shalat berjamaah (bagi kaum lelaki) lebih utama dari shalat salah seorang kamu yang sendirian, berbanding dua puluh lima lipat. Malaikat penjaga malam dan siang berkumpul pada waktu shalat subuh. Kemudian naiklah para malaikat yang menyertai kamu pada malam harinya, lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka padahal Dia lebih mengetahui keadaan mereka. Bagaimana hamba-hambaKu ketika kalian tinggalkan? mereka menjawab, “Kami tinggal mereka dalam keadaan shalat dan kami jumpai mereka dalam keadaan shalat juga.”(H.R.Al-Bukhari)
Berikut ini adalah beberapa poin terpenting keutamaan shalat subuh,
1. Dijamin masuk surga
Orang yang rutin shalat berjamaah subuh selain dijamin terbebas dari api neraka, juga dijamin dalam masuk surga. Sebagaimana hadis yang artinya, dari Abu Bakar bin Ammarah dari bapaknya berkata, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menunaikan shalat pada dua waktu yang dingin (shalat subuh dan shalat ashar) maka ia akan masuk surga.” (H.R. Ibny Hiban)
2. Disaksikan oleh malaikat
Allah SWT berfirman: “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikanlah pula shalat subuh sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (Q.S Al-Israa'[18]:78)
Dikala fajar, malaikat yang bertugas di siang hari dan malam hari menurut Rasulullah SAW, mereka berkumpul menyaksikan jama’ah shalat subuh. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, dari Abu Huraihah r.a dari Nabi Muhammad SAW bersabda, “Shalat berjamaa’ah lebih utama dua puluh lima derajat dibanding shalat sendiri, malaikat malam dan malaikat siang, mereka berkumpul dalam jama’ah shalat subuh.” (H.R. Al-Bukhari)
3. Menyelamatkan kaum dari adzab
Ini sebagaimana hadis riwayat Al-Ashbihani, dari Abu Umamah al-Bahili dari Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak ada suatu kaum yang mengumandangkan adzan untuk shalat subuh kecuali mereka akan dari adzab hingga malam hari. Dan tidak ada suatu kaum yang mengumandangkan adzan untuk shalat subuh kecuali mereka akan selamat dari adzab hingga malam hari. Dan tidak ada suatu kaum yang mengumandangkan adzan untuk shalat subuh kecuali mereka akan selamat dari adzab hingga malam hari. Dan tidak ada suatu kaum yang mengumandangkan adzan untuk shalat magrhib, kecuali mereka akan selamat dari adzab hingga subuh.”(H.R.Al-Ash-bihani). Maksud ari hadis ini adalah, jika dalam suatu desa masyarakatnya melaksanakan shalat subuh berjama’ah, maka Insya Allah akan selamat dari adzab. Ini tidak lain dan tidak bukan karena pahala yang besar dari shalat subuh berjama’ah, sehingga mampu memalingkan murka Allah SWT
4. Mendapatkan berkah dari Allah SWT dan dilapangkan rejekinya
Dari Shakhr al-Ghamidi dari Nabi Muhammad SAW, “Ya Allah SWT berkatilah umatku atas aktivitas paginya.” (H.R Abu Daud). Rasulullah SAW jika mengutus pasukan perang atau tentara, beliau menyuruh mereka agar berangkat pagi. Dan Shakhr al-Ghamidi adalah seorang pedagang, Rasulullah SAW pun menyuruhnya untuk berangkat di pagi hari dan hal itu dilakukan Ghamidi dan dia menjadi orang kaya.
5. Menormalkan kinerja syaraf pusat dan menjaga keseimbangan hormon dalam tubuh.
Shalat subuh secara kusyuk ibarat kita berolah raga, sangat baik bagi kesehatan. Dengan bantuan shalat subuh yang kusyuk, syaraf kita akan bekerja dengan sempurna sesuai dengan sistemnya. Secara tidak langsung telah menormalkan kembali fungsi syaraf. Dan jika bagus sesuai sistem, maka aktivitas kita dalam mengarungi hari juga berjalan dengan sempurna dan lancar. Selain itu di dalam tubuh manusia terdapat banyak sekali jenis kelenjar hormon.
Diantaranya hormon yang memunculkan rasa emosi, hormon tiroid. Jika dihubungkan antara aktivitas ibadah seperti shalat subuh dan fungsinya sebagai penyeimbang hormon. Maka sangat beralasan jika para ulama berpendapat bahwa seseorang yang bangun siang (setelah matahari terbit dan terang), akan mengalami kegelisahan dan kegundahan hati. Karena menurut Prof.HM Hembing Wijayakusuma mengatakan jika hormon tiroid ini tidak seimbang karena terlalu aktif, akan menimbulkan perilaku-perilaku kurang wajar, seperti mudah marah, tergesa-gesa. Istilah ini dalam dunia kesehatan dinamakan hipertiroid.
Dengan begitu akan menyebabkan hilangnya keseimbangan hormon dan biokimia tubuh dan menggangu metabolisme tubuh. Dan pada saat itu berbagai macam penyakit mudah sekali menyerang, seperto jantung, liver, depresi, kanker, diabetes dll. Peranan shalat subuh sendiri sebagai obat mujarab dan resep dari Allah SWT yang manjur dalam menangkal berbagai penyakit tersebut. Ini juga bisa dibuktikan dari kaca mata medis yang dilakukan penelitian tiga ilmuwan, Furchgott, Ignatio serta Murad yang mendapat hadiah nobel pada tahun 1998. Dalam penelitiannya, dalam shalat subuh ternyata terdapat atau menghasilkan kandungan zat yang lazim disebut zat NO atau Nkitrik Oksida.
Jadi kalau kita bangun tidur pada pagi buta dan bergerak, maka hal itu akan memberikan pengaruh baik pada pencegahan gangguan kardiovaskular. Naiknya kadar NO dalam darah karena bekerja dapat diminimalisir dengan wudhu dan shalat sunnah dan wajib apalagi bila disertai berjalan kemasjid merupakan proteksi bagi pencegaha kejadian kardiovaskular. Selain itu patut dicatat bahwa pada posisi rukuk dan sujud terjadi proses mengejan, posisi ini meningkatkan tonus parasimpatis (yang melawan efek tonus simpatis). Dengan shalat subuh tubuh memproduksi NO untuk melawan peningkatan kadar zat adrenalin diatas yang berefek menyempitkan pembuluh darah dab nebuat sel trimbosit darah kita menjadi bertambah, sehingga pikiran dan tubuh kita menjadi lebih tenang, juga bisa mengontrol kesehatan kita.
Demikianlah beberapa keutamaan dan khasiat shalat subuh. Sebenarnya masih banyak keutamaan lain shalat subuh, tapi yang terpenting adalah bagaimana kita berusaha sebisa mungkin melaksanakan shalat subuh berjama’ah terlebih lagi dimasjid, dengan kusyuk (tuma’ninah), ikhlas dan mengharap keridhoan Allah SWT. Keutamaan dan khasiat shalat subuh itu tentu kita anggap saja sebagai bonus, karena amalan yang paing utama kita harapkan tentu saja pahala yang berlipat ganda, dan jaminan masuk surga. Amin amin ya robbal allamin.

Santya Herfian
Alumni Mahasiswa FIB GUM, Yogyakarta 2003

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Oktober 2011 in Artikel

 

Hikmah Membayar Zakat

Beberapa Hikmah yang dapat dipetik dari pembayaran Zakat diantaranya :

1. Membayar zakat itu berarti mensyukuri nikmat Allah. Nikmat yang disyukuri, dijanjikan oleh Allah akan ditambah.

2. Kekayaan yang dikumpulkan oleh seseorang, belum tentu dari hasil jerih payah dan keringat sendiri, tapi bisa juga dari hasil tenaga para buruh yang bekerja padanya. Oleh karena itu ia harus membagi kekayaannya kepada fakir miskin dan asnaf lainnya.

3. Zakat membuat hubungan antara si Kaya dan si Miskin jadi harmonis. Rukun dan saling membantu. Rasulullah bersabda : “Bukan golonganku orang (besar) yang tidak belas kasihan kepada orang kecil. dan juga bukan golonganku orang kecil yang tidak menghargai orang besar” Jadi zakat itu adalah uluran tangan orang besar kepada orang kecil atau miskin.

4. Zakat mendidik orang jadi dermawan/pemurah. Manusia biasanya bersifat kikir padahal kikir itu dibenci Allah. Zakat menghindarkan kita dari sifat kikir.

5. Di antara pencuri atau perampok ada yang disebabkan karena kemiskinan. Zakat merupakan satu jaringan pengaman yang bisa mengurangi kejahatan yang disebabkan oleh faktor ekonomi. Sabda Nabi : “Kemiskinan, hampir-hampir menjadikan orang menjadi kufur (lupa kepada kebenaran)”.

Sumber:

http://abinyaazka.blogspot.com/2010/08/hikmah-membayar-zakat.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 Agustus 2011 in Artikel

 

Masjid Sederhana Tapi Bermanfaat. Bukan Mewah tapi Sepi

Masjid adalah pusat ibadah ummat Islam. Di sanalah ummat Islam shalat berjama’ah dan melakukan berbagai kegiatan lainnya.
Membangun masjid imbalannya sangat besar, yaitu: surga:


Usman bin Affan ra.: Kalian berlebih-lebihan, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang membangun sebuah mesjid karena Allah Taala, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga. (Shahih Muslim No.828)

Barangsiapa membangun untuk Allah sebuah masjid (mushola) walaupun sebesar kandang unggas maka Allah akan membangun baginya rumah di surga. (HR. Asysyihaab dan Al Bazzar)
Meski demikian, tidak jarang saat ini banyak pengurus masjid yang membangun masjid secara berlebihan dengan bermegah-megahan. Ada yang sampai membuat masjid dengan kubah emas. Padahal ummat Islam masih banyak yang miskin dan terbelakang.
Ironisnya lagi, masjid yang dibangun secara mewah tersebut lebih sering terkunci karena takut ada yang mencuri. Akibatnya orang justru sulit untuk beribadah. Mesjidnya mewah, tapi sepi dari orang yang beribadah. Apalagi ketika shalat subuh, kurang dari 5 shaf. Masjid akhirnya justru jadi tempat tujuan wisata. Bukan tempat orang untuk beribadah.

 

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Mei 2011 in Artikel

 
 
%d blogger menyukai ini: