RSS

Arsip Kategori: Dakwah

Thuma’ninah di dalam shalat

Banyak dari orang-orang yang mulai sadar akan pentingnya shalat masih mengabaikan perkara thuma’ninah di dalam shalat. Padahal hanya dengan thuma’ninah seseorang bisa khusyu’. Dan mustahil kekhusyu’an bisa tercapai dengan ketergesa-gesaan. Karena setiap kali bertambah thuma’ninah seseorang, maka bertambah pula kekhusyu’annya dan setiap kali berkurang thuma’ninah-nya maka bertambahlah ketergesa-gesaannya, sehingga jadilah gerakan kedua tangannya seperti sesuatu yang sia-sia yang tidak diiringi dengan kekhusyu’an. Dan Allah SWT telah memuji hamba-hamba-Nya yang khusyu’ di dalam shalatnya,

{قَدْ أَفْلَحَ المُؤْمِنُونَ الذِينَ هُمْ فِي صَلاَتِهِم خَاشِعُونَ} (المؤمنون: 1-2)

“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman ( yaitu) mereka yang khusyu’ di dalam shalat mereka” (Qs. Al Mu’minun; 1-2).

Tapi alangkah banyaknya kaum muslimin yang melalaikan hal ini. Tidaklah kita dapati kebanyakan mereka kecuali telah menyia-nyiakan shalat, menyia-nyiakan rukun-rukunnya, dan meninggalkan thuma’ninah di dalamnya. Ini adalah perkara yang sangat menyedihkan.

Sungguh manusia telah menyia-nyiakan shalat sejak zaman Anas bin Malik Radhiyallahu ’anhu. Disebutkan dalam Shahih Al Bukhari dari Al Imam Az-Zuhri, beliau berkata, “Aku masuk menemui Anas bin Malik Radhiyallahu ’anhu di Damaskus dan ketika itu ia sedang menangis. Maka aku bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis? Ia menjawab, “Aku tidak mengetahui sedikit pun dari apa yang dahulu aku dapati kecuali shalat ini, dan shalat ini telah disia-siakan”. Dan dalam riwayat yang lain, Anas Radhiyallahu ’anhu berkata, “(Sekarang ini) aku tidak mengetahui sedikit pun dari apa yang dahulu ada pada zaman Rasulullah SAW”. Kemudian seseorang berkata, “Bagaimana dengan shalat?” Ia menjawab, “Bukankah kalian telah menyia- nyiakannya?!”

Read the rest of this entry »

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Juni 2011 in Dakwah

 

Muslimah dan Dakwah

Wanita sama seperti pria dalam kewajiban berdakwah kepada Allah dan beramar ma`ruf nahi mungkar.

Dalil-dalil dari Al-qur`an dan Sunnah mencakup semuanya, kecuali yang dikecualikan oleh dalil. Ucapan para ulama juga jelas dalam hal itu. Diantara dalil dari Al-qur`an tentang hal itu:


وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ

“Kaum mukminin dan mukminat, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian lainnya. Mereka menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (At-Taubah : 71)


كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ


“ Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan bagi manusia. Kalian menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang mungkar serta kalian beriman kepada Allah.” (Ali Imron : 110)

Hendaknya wanita itu berdakwah kepada Allah dengan adab-adab yang sesuai dengan syari`at yang juga dituntut dari para pria. Wanita itu juga harus sabar dan mengharap pahala dari Allah:


وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“ Bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal : 46)


Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Juni 2011 in Dakwah

 

Ikatan Ukhuwah

Dalam perspektif Islam, setelah lahirnya kasih sayang dan saling memahami antar umat, maka ada hal lain yang mampu memperkuat kesatuan dan persatuan umat manusia sejagad, yakni ukhuwah. Para ulama membaginya ke dalam beberapa kategori: ukhuwah Islamiyah (persaudaraab se-Islam), ukhuwah imaniyah (persaudaraan seiman), ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama umat manusia),  dan ukhuwah wathaniyaj (persaudaraan setanah air).

Konsep lain yang dikemukakan Islam dalam menjalin persaudaraan antar manusia adalah konsep ummah. Menurut Al-Qur’an, mulanya manusia adalah umat yang satu. Allah SWT berfirman, yang artinya: “Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk  orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus,” (QS Al-Baqarah(2):213)

Ismail Al-Faruqi dalam buku Tauhidnya menyebutkan bahwa konsep ummah mengacu kepada kesatuan bertuhan. Dengan konsep itu, dimanapun mereka berada, apa pun suku dan budayanya, manusia akan terikat perasaan dan tanggung jawabnya. Orang-orang beriman dituntut untuk memilki satu titik tumpuan tempat berpijak, satu tujuan menyeluruh, satu nilai kunci yang akan memberikan kepada seluruh udaha mereka satu makna yang mencakup keseluruhan,  yaitu mengabdi kepada Tuhan.

Eksistensi ummah akan berarti jika ia mampu menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kebajikan dan melarang kejahatan. Dengan ummah, kaum muslim akan mampu bersatu padu, bahu membahu membangkitkan semangat persaudaraan dan kebersamaan melaui amal ma’ruf nahi munkar (Intisari QS, Al Anbiya(21):92)

Paling tidak terdapat dua cara  yang dapat ditempuh untuk membangun ukhuwah dengan motivasi kerukunan dan keutuhan berbangsa dan bernegara.

Pertama, saling mengunjungi dan berkumpul. Cara ini bisa dilakukan, baik hanya sekedar mengisi waktu luang maupun sengaja berkumpul, untuk saling menoling dalam rangka menggapau keselamatan serta saling menasehati dalam kebenaran dan penuh kesabaran.

Kedua, berbuat baik kepada tetangga. Hubungan baik antar tetangga merupakan salah satu dari keutamaan yang dapat menyatukan hati umat sehingga bisa saling mengasihi, menyayangi, mendukung serta membantu. Kerukunan antar-tetangga harus lebih dahulu dibangun sebelum membangun kerukunan nasional. Itu adalah fondasi awal yang akan terus tumbuh dan berkembang pada level yang lebih tinggi, yang pada akhirnya akan mengantarkan bangsa Indonesia kepada tatanan negara yang baldatun thayyibatun warabhun ghafuur. Semoga.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Juni 2011 in Dakwah

 

Amar Ma’ruf Nahi Munkar – Memerintahkan Kebaikan dan Mencegah Kemungkaran

Islam bukanlah agama individual/nafsi-nafsi yang hanya mementingkan diri sendiri. Namun juga merupakan agama sosial di mana setiap anggota masyarakat harus melakukan kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Munkar terhadap sesama. Menyuruh mengerjakan kebaikan dan Mencegah perbuatan mungkar.

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,  kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati dengan kebenaran dan nasihat menasihati dengan kesabaran.” [Al ‘Ashr 2-3]

Dari surat Al ‘Ashr di atas jelas. Selain beriman dan mengerjakan perbuatan baik, kita juga harus nasehat-menasehati dengan kebenaran dan kesabaran. Artinya kita tidak bisa diam saja melihat kemungkaran, namun dengan sabar terus menasehati agar orang-orang lain juga ikut berbuat baik dan benar dan menghentikan perbuatan mungkar.

Allah menyebut orang yang shalat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran sebagai penolong agamaNya

“Orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” [Al Hajj 41]

Luqman juga menyuruh anaknya untuk menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah perbuatan mungkar dan bersabar terhadap resiko yang mungkin dihadapi karena itu.

Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” [Luqman 17]

 

Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 Mei 2011 in Dakwah

 
 
%d blogger menyukai ini: