RSS

Arsip Kategori: Serba-Serbi

Sebuah Jam

jam

Alkisah seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. “Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31.104.000 kali selama setahun ?

“Ha ?,” kata jam terperanjat, “Mana sanggup saya ?”

Tukang jam pun terdiam…

“Bagaimana kalau 86.400 kali dalam sehari ?”

“ha… Delapan puluh enam ribu empat ratus kali ? dengan jarum yang ramping-ramping  seperti ini ?” jawab jam penuh keraguan.

Tukang jam pun terdiam…

“Bagaimana kalau 3600 kali dalam satu jam ?”

“Apaa.. Dalam satu jam harus berdetak 3.600 kali ?”

“Banyak sekali itu” tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam pun terdiam…

Lalu tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam.

“Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik ?”

“Naaa, kalau begitu, aku sanggup” kata jam dengan penuh antusias.

Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik.

“Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak selama 86.400 kali dalam sehari, dan 3.600 kali dalam satu jam.. dan tentu saja 31.104.000 kali selama setahun.

——

Sahabatku, Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang terasa begitu berat. Namun sebenarnya jika kita sudah melaksanakannya, ternyata kita mampu, bahkan sesuatu yang mungkin semula kita anggap tidak mungkin untuk dilakukan. Yakinlah kepada Tuhan ! Dia sudah mengukur kemampuan Hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya bersamaan dengan kesulitan yang kita hadapi ada kemudahan didalamnya.

(hidayah edisi 22 Februari 2013)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Maret 2013 in Serba-Serbi

 

Jam

Seorang anak batita begitu terheran dengan benda berbentuk lingkaran yang dipenuhi angka-angka. Tiga buah jarum yang menunjuk angka-angka di lingkaran itu pun kian membuatnya tercenung.

Ada jarum tipis warna merah yang menunjuk dari satu angka ke angka lain dengan begitu cepat. Ada jarum yang lebih tebal dan lebih panjang yang bergerak lebih lamban. Dan, ada jarum pendek gemuk yang nyaris tak bergerak, tapi bisa berpindah ketika dalam waktu lama tak diperhatikan.

Yang lebih menarik dari semua pemandangan di benda itu adalah ketika pada saat tertentu, ada burung mainan yang tiba-tiba keluar dari bawah lingkaran tersebut dengan suara khas. “Kuk kuk…kuk kuk…kuk kuk…!”

Saat itulah, sang anak pun melompat riang. Tapi, ia masih bingung dengan benda itu.

“Itu jam, anakku!” suara sang ibu tiba-tiba muncul dari balik tubuh mungil si batita.

“Jam…?” sahut si batita seraya mengungkapkan rasa ingin tahunya.

“Iya. Itu jam. Perhatikanlah, sang burung tidak akan bernyanyi kalau si jarum pendek gemuk tetap saja diam, si jarum pendek gemuk akan tetap diam jika si jarum tebal panjang hanya berhenti. Dan, dua jarum itu tidak akan bergerak kalau saja si jarum merah kecil tidak bergerak lincah,” jelas sang ibu sambil memperhatikan wajah si batita yang begitu serius menatap ibunya. Sesekali, pandangannya menoleh ke arah jam, untuk memastikan kebenaran yang diucapkan ibunya.

“Dan anakku, semua jarum-jarum itu bergerak ke arah yang sama,” tambah sang ibu sambil menunjuk ke arah gerakan jam.

++

Jam, dalam makna kehidupan tidak selalu menunjukkan nilai sebuah waktu. Ada sisi lain yang bisa diambil hikmah dari gerakan tiga jarum dalam jam.

Dalam dinamika sebuah organisasi, dinamika tiga jarum jam memberikan makna tersendiri bagaimana interaksi produktif antara pimpinan, manejer, dan pelaksana. Seperti tiga jarum jam, masing-masing level punya intensitas gerakan yang berbeda, karena bobot dan pengaruh gerakannya memang berbeda.

Namun, walaupun punya gerakan yang seolah berbeda, semua level tidak ada yang diam. Semua bergerak dalam sistem yang begitu harmonis. Keharmonisan gerak tiga level inilah yang menghasilkan ‘pengingat suara burung’ yang begitu bermanfaat untuk orang banyak.

Tapi, dari semua nilai pelajaran yang ada dalam tiga level jarum jam, ada satu pakem yang jika dilanggar akan berakibat sangat fatal. Yaitu, walaupun beda level dan beda intensitas gerak, ketiga jarum bergerak dalam arah yang sama. (muhammadnuh@eramuslim.com)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Februari 2012 in Serba-Serbi

 

Efek Kaca Spion

Seorang Instruktur stir mobil tampak begitu serius memperhatikan seorang muridnya yang sedang mengemudikan mobil. Sesekali, sang Instruktur memberikan isyarat agar sang murid fokus ke arah depan.

“Jangan terlalu sering memperhatikan kaca spion,” ucap sang Instruktur ketika sang Murid kerap menoleh ke kiri atau ke kanan, juga ke atas di mana kaca spion mobil berada. Padahal, jalan yang mereka lalui lurus, tanpa belokan.

Sang Murid pun kembali fokus. Tapi, hasrat untuk menoleh ke spion lagi-lagi secara spontan muncul. Dan saat itu pula, sang Instruktur kembali mengingatkan.

Bagi sang Murid, menoleh ke arah spion seperti perpaduan antara rasa ingin tahu terhadap kendaraan yang berada di belakang atau sampingnya, dengan rasa khawatir kalau-kalau ada kendaraan lain yang akan menabraknya.

“Muridku, gunakan spion hanya untuk berbelok atau pindah jalur. Karena spion hanya pelengkap, bukan yang utama. Terlalu sibuk dengan spion bisa membuat kita lalai dan selalu was was,” ucap sang Instruktur sambil terus memperhatikan sang Murid yang mulai tenang memperhatikan arah depan.

Sang Murid pun mengangguk pelan.

***

Melalui jalan hidup kadang tak ubahnya seperti mengendarai kendaraan seperti mobil atau motor. Dengan kendaraan itulah, tujuan hidup akan kita raih dengan baik.

Pada kendaraan itu, setidaknya ada tiga titik yang bisa menjadi perhatian kita yang disimbolkan dengan sebuah kaca spion: depan yang menjadi fokus utama, kiri, kanan, dan juga belakang.

Pandangan arah depan adalah tujuan utama kita hidup yaitu ibadah dan akhirat. Sementara, pandangan arah kiri, kanan, dan belakang adalah tawaran aksesoris hidup yang diperlihatkan keindahan duniawi.

Terkadang, tidak sedikit dari kita yang lebih sibuk untuk memperhatikan spion kiri, kanan, atau belakang. Sehingga melupakan fokus di arah depan.

Seperti dikatakan sang instruktur stir mobil, “Gunakan spion hanya sekedarnya!” Fokuslah ke arah depan, dan jangan tunggu sampai kendaraan hidup ini menabrak atau bahkan terguling ke jurang. (muhammadnuh@eramuslim.com)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 Januari 2012 in Serba-Serbi

 

KISAH LIMA PERKARA ANEH

Sempat baca pada 1001 kisah teladan. Meskipun artikel lama tapi isinya cukup menarik:

Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahawa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.
Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, “Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang negkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya.”

Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, “Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan.”
Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur ‘Alhamdulillah’.

Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut.
Maka berkatalah Nabi itu, “Aku telah melaksanakan perintahmu.” Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disedari oleh Nabi itu yang mangkuk emas itu terkeluar semula dari tempat ia ditanam.

Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung helang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, “Wahai Nabi Allah, tolonglah aku.”
Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung helang itu pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, “Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku.”

Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, iaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pehanya dan diberikan kepada helang itu. Setelah mendapat daging itu, helang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya.
Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ kerana tidak tahan menghidu bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, “Ya Allah, aku telah pun melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku erti semuanya ini.”

Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T. bahawa, “Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukittetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu.
Kedua; semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak jua. Ketiga; jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya. Keempat; jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat. Kelima; bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah.”

Saudara-saudaraku, kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini sentiasa sahaja berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah mengata hal orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka mengata hal orang lain. Haruslah kita ingat bahawa kata-mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, “Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu.”

Maka berkata Allah S.W.T., “Ini adalah pahala orang yang mengata-ngata tentang dirimu.” Dengan ini haruslah kita sedar bahawa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, hendaklah kita jangan mengata hal orang walaupun ia benar.

Sumber: 1001 kisah teladan file created by heksa

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Desember 2011 in Serba-Serbi

 

Keutamaan Bulan Al-Muharram

Hendaknya kita merasa cukup dengan ajaran Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, Karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau, dan sejelek-jelek perkara dalam agama adalah amalan ibadah baru yang diada-adakan

Keutamaan Bulan Al-Muharram

Bulan Al-Muharram termasuk bulan yang disucikan Allah Ta’ala. Rasulullah shalallahu ‘alaihi sallam mensifati dan menisbatkan kepada Allah SWT dengan menamainya sebagai “syahrullah al muharram” (bulan Allah Al Muharram). Hal ini menunjukkan keutamaan dan kemuliaan bulan ini disisi Allah SWT, karena tidaklah Allah menggandengkan sesuatu dengan nama-Nya kecuali dengan makhluk-Nya yang istimewa. (Laithaful Ma’arif hal 70, karya Ibnu Rajab Al-Hambali).

Al- Hasan rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah membuka tahun dengan bulan yang suci dan menutupnya dengan bulan yang suci pula. Dan tidaklah ada bulan dalam setahun yang lebih agung di sisi Allah setelah bulan Ramadhan kecuali bulan Muharram.” (lathaiful Ma’arif hal 67, karya Ibnu Rajab Al- Hambali)

Bulan Al Muharram merupakan bulan yang Allah utamakan. Sisi keutamaannya adalah bahwa berpuasa dibulan ini lebih utama daripada berpuasa dibulan yang lain selain bulan Ramadhan, sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Puasa paling utama setelah puasa bulan Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Al Muharram.” (HR. Muslim)]

Di antara kekeliruan yang dilakukan banyak orang yang menyebut bulan ini dengan lafadz “muharram” tanpa ada huruf alif dan lam diawalnya. Penyebutan yang  benar adalah dengan lafadz “al muharram” karena orang arab tidaklah menyebut bulan ini kecuali dengan bentuk mu’araf (mengandung huruf alif dan lam) dan demikian pulalah yang disebutkan dalam berbagai hadits yang mulia dalam berbagai syair arab. (Tashwibul Mafaahim hal 75). Tidaklah huruf alif dan lam masuk dalam nama bulan kecuali untuk bulan Al Muharram

BULAN AL MUHARRAM DAN PUASA ASYURA’

Hari Asyura’ adalah hari kesepuluh bulan Al Muharram menurut mayortas ulama. Hari tersebut merupakan hari yang mulia, diberkahi, agung kedudukannya, dan memilki keutamaan yang besar. Di antara keutamaan hari Asyura’ adalah:

1). Pada hari Asyura’ Allah Ta’ala menyelamatkan Musa dan Bani Israil serta menenggelamkan Fir’aun dan pengikutnya

Dari Ibnu Abas radhiallahu ‘ahuma, beliau mengatakan, “rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tiba dikota madinah dan beliau menjumpai orang Yahudi dalam keadaan berpuasa pada hari Asyura’. Maka beliau bertanya kepada mereka, “Hari apa ini yang kalian berpuasa di dalamnya?” Mereka menjawab, “ini merupakan hari yang agung dimana Allah Ta’ala menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun dan pengikutnya. Sehingga Musa berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk syukur, sehingga kamipun berpuasa sebagaimana beliau”. Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “kami lebih berhak terhadap Musa dari kalian, “Beliau pun berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkannya.”(HR.Bukhari- Muslim).

2. Puasa di hari Asyura’ dapa menghapus dosa setahun yang lalu

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai puasa di hari Asyura’, “aku berharap  bisa menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR.Muslim)

3. Puasa di hari Asyura’ merupakan puasa yang sangat nabi inginkan keutamaannya dibandingkan hari yang lain

Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau ditanya tentang puasa di hari Asyura’ , maka beliau menjawab, “Tidaklah aku melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada satu hari yang sangat beliau inginkan mendapatkan keutamannya dibandingkan hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari Asyura’, dan bulan ini yaitu Ramadhan.” (HR. Bukhari-Muslim)

Disunahkan untuk berpuasa di tanggal semblan Al Muharram beserta tanggal sepuluhnya, karena hal ini merupakan keadaan akhir yang dilakukan Nabi ketika melakukan puasa Asyura’.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 November 2011 in Serba-Serbi

 

Alasan Mengapa Bulan Ramadhan Lebih Istimewa Dibanding Bulan yang Lain

beberapa waktu yang lalu saya mengikuti shalat tarawih dengan tema yang sebenarnya cukup sederhana tetapi maknanya sangat dalam. Isi dari kultum tersebut salah satunya adalah membahas tentang alasan mengapa bulan ramadhan lebih istemewa dibanding bulan lain. Sebenarnya paling tidak ada 3 alasan mengapa bulan ramadhan istemewa dibandingkan dengan bulan yang lain, yaitu:

1). Karena pada bulan ramadhan merupakan bulan pada waktu turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Hal ini dijelaskan dalam surat Al-Baqarah sebagai berikut:

dalam ayat diatas terdapat hal yang menarik yaitu tentang kata hudalinnas yaitu petunjuk bagi umat manusia. Kenapa tidak hudalil mukminin, hudalil muslimin atau hudalil mutakin. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia,  tidak hanya umat islam saja tetapi umat-umat yang lain pun dapat menggunakan Al-Qur’an dalam upaya untuk memecahkan persoalan yang ada didunia. Kemudian hal yang menarik kedua adalah Al-Furqon yaitu Al-Qur’an sebagai pembeda antara yang hak dan yang batil. Jadi Al-Qur’an juga digunakan sebagai pedoman dalam bertindak, mana yang baik dan buruk, mana yang harus kita laksanakan dan mana yang harus kita tinggalkan.

2). Karena pada bulan Ramadhan terdapat Al-Qadr atau malam lailatul Qadr

Laitul Qadr merupakan salah satu keistemewaan yang tidak terdapat pada bulan-bulan lain, malam yang lebih baik dari 1000 bulan.  Dalam beberapa dalil dijelaskan  bahwa lailatul Qadr biasanya muncul pada sepuluh hari terakhir pada bulan ramadhan, dalam beberapa  hadits juga disebutkan bahwa lailatul Qadr muncul pada malam ganjil pada sepuluh hari terakhir dibulan ramadhan. Namun terlepas dari itu kita harus mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya terutama pada sepuluh hari terakhir.

3). Karena pada bulan ramadhan pintu-pintu keburukan ditutup, kemudian pintu-pintu kebaikan dibuka selebar-lebarnya.

Kalau pada bulan-bulan biasa banyak berbuat maksiat dikarenakan banyak godaan maka dibulan ramadhan ini pintu-pintu keburukan dikunci rapat-rapat, salah satu caranya yaitu dengan berpuasa, dengan berpuasa kita melatih diri kita untuk berpuasa jasmani dan rohani dari tebit fajar sampai matahari terbenam.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Agustus 2011 in Serba-Serbi

 

Tips: Persiapan Menjelang Ramadhan

1- I’dad Ruhi Imani, yakni persiapan ruh keimanan.

Orang-orang yang sholeh biasa melakukan persiapan ini seawal mungkin
sebelum datang Ramadhan. Bahkan mereka sudah merindukan kedatangannya sejak bulan Rajab dan Sya’ban. Biasanya mereka berdoa : “Ya Allah, berikanlah kepada kami keberkatan pada bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami kepada Ramadhan.”

Dalam rangka persiapan ruh keimanan itu, dalam surah At-Taubah Allah
melarang kita melakukan berbagai maksiat dan kedzhaliman sejak bulan Rajab. Tapi bukan berarti di bulan lain dibolehkan. Hal ini dimaksudkan agar sejak bulan Rajab kadar keimanan kita sudah meningkat. Boleh dikiaskan, bulan Rajab dan Sya’ban adalah masa pemanasan *(warming up),*sehingga ketika memasuki Ramadhan kita sudah bisa bisa menjalani ibadah shaum dan sebagainya itu bak sudah terbiasa.

2- I’dad Jasadi, yakni persiapan fizikal.

Untuk memasuki Ramadhan kita sebaiknya menyediakan fizikal yang lebih kuat dan bersedia daripada biasanya. Sebab, jika fizikal lemah, boleh menjadikan kemuliaan yang dilimpahkan oleh Allah swt. pada bulan Ramadhan tidak dapat kita raih secara optimal.

Maka, sejak bulan Rajab Rasulullah dan para sahabat membiasakan diri melatih fizikal dan mental dengan melakukan puasa sunnah, banyak berinteraksi dengan al-Qur’an, biasa bangun malam (qiyamul-lail), dan meningkatkan aktiviti seketika berkecimpung dalam masyarakat.

3- I’dad Maaliyah, yakni persiapan harta.

Jangan salah faham, persiapan harta bukan untuk membeli keperluan
berbuka puasa atau hidangan di hari raya sebagaimana tradisi kita selama ini. Mempersiapkan harta adalah untuk melipatgandakan sedekah, karena Ramadhan padanya disediakan peluang yang banyak untuk bersedekah.

4- I’dad Fikri wa Ilmi, yakni persiapan intelektual dan keilmuan.

Agar ibadah Ramadhan dapat direbut seoptima mungkin, diperlukan bekal wawasan dan tashawur (persepsi) yang benar tentang Ramadhan. Antaranya dengan membaca berbagai bahan rujukan dan menghadiri majlis ilmu tentang Ramadhan.

Kegiatan ini berguna untuk mengarahkan kita agar beribadah sesuai tuntunan Rasulullah saw. seketika Ramadhan. Menghafal ayat-ayat dan doa-doa yang berkait dengan pelbagai jenis ibadah, atau menguasai berbagai masalah dalam fiqh puasa, juga penting untuk dipersiapkan.

Semoga persiapan yang dilakukan mampu menjadikan ibadah puasa kita kali ini adalah yang terbaik dalam sejarah puasa yang kita lakukan. Dan semoga ianya diterima oleh Allah swt. dan diberikan ganjaran yang sewajarnya bila amal dihitungkan untuk diberikan pembalasan. Amiin.

 

Sumber:

http://deltapapa.wordpress.com/2008/08/26/tips-persiapan-menjelang-ramadhan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Juli 2011 in Serba-Serbi

 
 
%d blogger menyukai ini: